Monday, August 4, 2014

Strategi Analis Menyeleksi Kartu Kredit

Pada saat analis menghubungi kita lewat telepon seraya melakukan rating data aplikasi kartu kredit, saat itu juga sebenarnya mereka sudah melakukan seleksi dengan sebuah strategi yang bahkan tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Kalau Anda cermati pasti ketahuan bahwa analis menggunakan strategi. Analis adalah orang yang paling pintar dan banyak akal di bidangnya. Mereka sudah dibekali dengan training dan job description yang jelas untuk mencari dan memilah-milah mana calon nasabah yang oke atau tidak oke. Hanya calon nasabah yang oke yang bakalan diproses dan disetujui permohonan kartu kreditnya. 
Hahahaha...orang ini gak tahu kalo gue adalah analis kartu kredit. Masa si Agus panggil gue "sayang"?

Kalau mau diibaratkan antara nelayan dan penjual ikan di pasar, marketing kartu kredit ibarat nelayan sedangkan analis ibarat penjual atau pedagang ikan. Nelayan dituntut untuk menjaring dan menangkap ikan sebanyak-banyaknya mulai dari ikan teri, udang, kepiting, cumi-cumi, kerang atau bahkan bila perlu ikan hiu sampai ikan paus. Kalau hasil tangkapan sedikit sudah pasti penghasilannya sedikit. Kurang lebih seperti itulah pekerjaan sales kartu kredit. Makin banyak aplikasi yang didapatkan makin besar peluang penghasilan sehingga terkadang aplikasi model apa saja akan dimasukkan untuk diproses. Jika dimasukkan 100 aplikasi dan andaikan lolos 20% sudah lumayan, apalagi jika 100% lolos. Jika sebuah aplikasi yang disetujui dihargai dengan upah Rp 150.000 maka untuk 100 aplikasi dalam sebulan, si sales sudah mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp 15.000.000. Wow! Belum termasuk gaji pokok loh jika memang masih mendapatkan gaji pokok.

Sementara itu analis adalah kebalikannya. Ibarat penjual atau pedagang ikan, tentu saja hanya ikan-ikan bagus saja yang akan dipilih oleh si penjual. Meski nelayan bisa menangkap 1 ton ikan segar dengan berbagai macam ukuran, pedagang ikan yang bisa menentukan mana ikan yang bakalan jadi duit atau tidak, mana ikan yang sekali pajang langsung disamber pembeli seperti ikan pari, tongkol, tenggiri, baronang, dorang, bandeng, dsb..atau mana yang bakalan jadi ikan asin. Jadi keuntungan nelayan sangat ditentukan juga oleh pedagang ikan. Dengan kata lain, penghasilan seorang sales kartu kredit sangat ditentukan juga oleh analis kartu kredit. Maka itu seorang marketing kartu kredit sejati pasti akan melakukan preliminary analysis untuk memuluskan aplikasi mereka.

Strategi Analis Menyeleksi Aplikasi Kartu Kredit

Pengalaman menghadapi banyak pemohon kartu kredit, tuntutan profesi, asam garam dikerjain para mafia kartu kredit, mau tidak mau membuat para analis semakin pintar dan semakin cekatan. Kalau tahun 1990 mendapatkan kartu kredit amatlah mudah, sudah pasti tahun 2000 semakin sulit. Jika tahun 2012 saat  ini semakin sulit, maka dipastikan tahun 2013 atau 2014 akan semakin sulit. Maksud sulit di sini bukan berpatokan pada syarat pengajuannya meski memang semakin sulit juga, namun lebih kepada kepintaran analis itu menyeleksi aplikasi.

Hanya dengan membaca sebuah aplikasi yang sudah diisi dan ditandatangai serta melihat dokumen-dokumen apa saja yang diikutsertakan, seorang analis bisa langsung mencoret atau menindaklanjutinya. Cukup membacanya saja analis sudah tahu. Aplikasi sampah di mana dokumen tidak lengkap dan data yang diisi tidak jelas, akan langsung dimasukkan tong sampah dalam arti tidak akan diproses sama sekali. Makanya kita sering menunggu ditelepon analis tetapi tidak kunjung ditelepon-telepon juga. Ini bukan karena aplikasi kita hilang tetapi bisa karena dianggap aplikasi sampah. 

"Buang-buang waktu dan pulsa saja," mungkin kurang lebih seperti itu di otak analis.

Sementara aplikasi yang cukup lengkap dan didukung oleh dokumen yang memadai maka akan diproses dengan sebelumnya menginput data tersebut ke dalam database komputer. Jika gagal prosesnya alias ditolak maka data si pemohon akan tersimpan di komputer. Dalam periodik tertentu akan dihapus dan biasanya 6 bulan sekali. Inilah alasannya mengapa kita sering mendengar jika sebuah permohonan kartu kredit ditolak maka baru bisa mengajukannya kembali setelah 6 bulan. Sebenarnya sih tidak mesti 6 bulan tetapi patokan pada apakah data kita masih ada di sistem komputer atau tidak. Jika masih ada meski sudah lewat 6 bulan tetap saja tidak akan diproses.

Analis bisa menjebak kita. Kadang mereka menghubungi rumah kita di waktu malam sekitar jam 9 malam. Apakah Anda pernah mengalaminya? Hal ini untuk memastikan bahwa alamat rumah yang kita isi tersebut benar-benar ada penghuninya dan bukan digunakan hanya untuk mengajukan kartu kredit. Bukankah saat ini banyak orang menyewa rumah untuk menjebol kartu kredit? Kadang bisa juga analis di pagi-pagi sekali sekitar jam 6-7 pagi menghubungi kita ke rumah. Luar biasa! Mengapa harus pagi-pagi sekali? Hanya untuk memastikan bahwa si nasabah benar-benar tinggal di sana jadi sebelum berangkat ke kantor ada di rumah. Analis hanya ingin memastikan dan berbicara dengan si pemohon kartu kredit.

Secara akal sehat, jam kerja kantoran termasuk orang bank adalah jam 8.30 - 16.00. Lalu mengapa ada analis yang menghubungi kita di atas jam 8 malam bahkan di pagi-pagi buta antara jam 6-7 pagi? Apakah mereka menginap di bank atau di kantor tempat mereka bekerja atau bagaimana? Ini tentu ada strategi yang hanya orang bank saja yang tahu. Mereka menempuh cara-cara seperti ini berdasarkan pengalaman mereka dalam memproses kartu kredit. Dan tidak semua bank melakukan hal ini karena tiap-tiap bank memiliki pengalaman, kebijakan dan strateginya masing-masing. Semakin hebat sebuah bank, semakin banyak strateginya.

Selain soal waktu menelepon, kadang analis bisa pura-pura menelepon nyasar ngalor ngidul ke nomor telepon kantor dan rumah. Apalagi jika pas yang pegang tugas adalah analis cewek. Tujuannya apa? Untuk menilai apakah kantor tersebut beneran atau kantor fiktif, kantor temporer alias sementara, dsb. Kalau itu rumah untuk memastikan apakah itu rumah kost-kostan, rumah petak kontrakan atau beneran rumah tempat tinggal pribadi. Jika perusahaan Anda katakanlah PT Keras Tegang Sekali yang bergerak di bidang pengadaan obat-obat kesehatan laki-laki, nah si analis cewek ini bisa pura-pura nyasar. Kurang lebih pembicaraannya seperti ini:

Tut...tut...tut... "Halo dengan PT Keras Tegang Sekali."

"Halo, tolong dong dengan pacarku Richard," suara cewek mendayu-dayu dan mengemaskan di ujung telepon. Padahal ini adalah aksi analis cewek dalam memproses pemohon kartu kredit atas nama Richard yang bekerja di PT Keras Tegang Sekali.

Nah, kalau andaikata yang angkat telepon itu adalah seorang karyawan kantoran yang terbius dengan desahan dan suara seksi si analis, lalu dia menjawab, "Oh Richard sedang keluar, ini dengan Agus sayang..."

Gubrakkkk! Kira-kira bagaimana penilaian si analis terhadap kantor seperti ini? Masa salah sambung, telepon nyasar juga diladeni? Kantor macam apa ini? Status kantor ini sudah masuk warning yang kemungkinan 70% kartu kredit tidak akan disetujui. Kebanyakan orang yang mencoba menjebol gawang analis dengan menyewa kantor sementara untuk membikin kartu kredit sering gagal di sini. Analis sekarang sudah sangat pintar dan dengan berbagai trik dan strategi bisa mengakali dan menyiasati nasabah bahkan termasuk jaringan mafia kartu kredit itu sendiri. Banyak yang bisa ditulis soal ulah analis kartu kredit dan akan kita bahas lagi di lain waktu.

Pengalaman membuat semua orang mampu! Bagaimana menurut Anda? Jadi pastikan Anda selalu siap sedia baik di rumah atau kantor untuk menerima panggilan telepon. Jangan sampai salah ngomong atau yang tidak penting jangan diladeni. Itu pasti kerjaan analis yang cerdik. Kalau soal sambungan lewat ponsel mudah kita siasati toh nomor teleponnya muncul kok.


  

Bagikan artikel Strategi Analis Menyeleksi Kartu Kredit ini