Friday, August 29, 2014

Rating Data Aplikan Kartu Kredit

Kita lanjutkan pembahasan soal persetujuan kartu kredit. Kali ini kita bicara soal rating kartu kredit. Pada saat analis menghubungi Anda lewat telepon, proses rating data pemohon kartu kredit sedang dilakukan. Untuk memahami seperti apa credit card rating, ada baiknya kita pura-pura menempatkan diri kita sendiri sebagai seorang analis kartu kredit. Sangat mudah untuk berpura-pura sebagai seorang analis. Mari kita coba supaya kita pun pintar sama seperti mereka.
Rating kartu kredit ada triknya. Semua data isian di formulir aplikasi dan dokumen akan dinilai oleh analis.

Pertama-tama, Anda bayangkan bekerja di bank. Anda digaji untuk sebuah job description yakni menyeleksi dan memilah-milah aplikasi permohonan kartu kredit yang masuk. Kira-kira apa yang dituntut oleh the big boss (bankir atasan kita)? Sudah pasti agar kita mendapatkan nasabah yang bonafit dan bagus, bukan? Alias jangan sampai nanti si nasabah malah kaburin uang kartu kredit atau ngemplang hutang.

Pertanyaan yang kedua adalah: bagaimana kita bisa mendapatkan nasabah yang bagus? Di sinilah yang diperlukan apa yang disebut "rating data kartu kredit". Bagaimana melakukannya? Gampang Sobat. Bukankah dari formulir aplikasi itu sendiri kita sudah bisa melakukan rating alias penilaian? Tidak percaya? Mari kita coba!

Rating Data Kartu Kredit

Perhatikan baik-baik kolom-kolom yang ada di sebuah formulir aplikasi kartu kredit baik online atau cetakan. Agar lebih afdol, ada baiknya buka di jendela baru formulir online yang satu ini. Silakan klik kanan (right click please). Jadi sambil mencerna, kita bisa praktek seolah-olah seorang analis hebat dengan bayaran di atas Rp 10 juta per bulan.

Apa yang Anda perhatikan di formulir aplikasi tersebut? Pasti ada yang bertanda bintang (*) atau berwarna merah bukan? Itu artinya apa? Artinya kolom-kolom tersebut wajib diisi oleh seorang calon nasabah kartu kredit. Mengapa wajib diisi? Karena penting! Mengapa penting? Karena ada nilainya tersendiri yang disebut dengan rating. Bukankah arti kata rating berasal dari "rate" yang artinya semacam nilai, tolak ukur, harga, kapasitas, dsb? Sampai di sini Anda paham? Wah sudah kayak analis saja nih.

Lalu bagaimana jika seorang calon nasabah tidak mengisi sama sekali kolom-kolom berbintang (*) atau berwarna merah tersebut? Sudah jelas ratingnya jeblok dan sebagai akibatnya kartu kreditnya bisa saja ditolak. Karena itu data penting tetapi tidak berani diisi oleh calon nasabah. "Something wrong with this guys," mungkin kurang lebih begitulah pikiran sang analis. Jadi sampai di sini Anda sudah paham soal rating kartu kredit. Semua kolom berbintang atau berwarna merah memiliki bobot tersendiri.

Berikutnya adalah melihat kecocokan kombinasi kolom yang diisi calon nasabah. Anda harus tahu bahwa setiap kolom ada nilainya (rate) tersendiri. Jika dipukul rata, nilai yang dimiliki oleh seorang calon nasabah memenuhi kriteria atau standar bank penerbit kartu kredit tersebut, otomatis kartu kredit akan disetujui. Namun jika tidak, kartu kredit tersebut akan ditolak. Pertanyaannya sekarang: berapa nilai masing-masing kolom tersebut? Karena kami tidak pernah bekerja sebagai analis, kami tidak bisa memberikan penjelasan yang lebih detil dan pasti soal nilai-nilai yang ada di tiap-tiap kolom. Mungkin nanti ada mantan analis yang ingin berbagi ke kita dengan memberikan komentarnya di bawah. Hanya mantan analis yang bisa berbagi, sebab kalau analis yang masih bekerja sudah pasti tidak akan mau dan dilarang keras karena dalil permohonan kartu kredit:

"Bank tidak wajib memberikan penjelasan terhadap penolakan permohonan kartu kredit."

Kalau bank memberikan informasi mengapa kartu kredit kita ditolak atau tidak disetujui, bukankah di periode permohonan kartu kredit berikutnya akan diterima? Karena kita sudah tahu alasan penolakannya jadi kita bisa berjaga-jaga. Contoh misalnya jika dibilang, "Sory Bos, kartu kredit Anda kami tolak karena gajinya kecil," maka bulan depan tinggal kita isi gaji lebih besar, atau orang bank bilang, "Sory Bos, kartu kredit Anda kami tolak karena pas dihubungi di rumah gak ada yang angkat," sudah pasti kita akan suruh orang jaga rumah bukan? Anda paham sampai di sini? Jadi semuanya dirahasiakan.

Rating kartu kredit, patokannya sederhana: kolom pendidikan yang terbagi dari SD - SMP - SMA - S1 - Master, sudah pasti bobot lebih besar ada di gelar master. Begitu juga untuk status rumah seperti: kost - kontrakan - rumah orang tua - rumah pribadi, maka rumah pribadi nilainya paling tinggi. Dengan asumsi seperti ini, analis sudah bisa menebak latar belakang Anda apakah termasuk orang kere, setengah kere atau borjuis. Masa bergelar master dan punya rumah pribadi tetapi tidak bisa membayar tagihan kartu kredit? Kurang lebih seperti itu rancangan yang sudah ditebar oleh bankir dengan kolom-kolom yang ada. Begitu juga dengan status perkawinan: single - menikah - janda/duda; status pekerjaan; jabatan di perusahaan, dsb.. memiliki ratingnya tersendiri. 

Jika rating Anda bagus di mana bergelar master, punya rumah pribadi, single, jabatan direktur, kantor berlokasi di gedung elit, gaji di atas rata-rata, secara otomatis kartu kredit Anda akan disetujui tanpa bertele-tele. Karena ratingnya bagus sekali. Namun sebaliknya jika cuma tamatan SD, tinggalnya ngekost, jabatan salesman, lama kerja cuma 2 tahun, percayalah kartu kredit Anda 99,9% akan ditolak. Bukan semata-mata karena profesi sebagai sales melainkan ratingnya anjlok secara keseluruhan. Makanya sekarang Anda paham mengapa ada sales yang punya kartu kredit, namun ada juga sales yang tidak bisa mendapatkan kartu kredit.

Mengakali Rating Kartu Kredit

Pasti akan ada yang berpikir, "Bagaimana kalau kita mengakali data kartu kredit agar ratingnya bagus?" Jawab kami ya bisa-bisa saja! Cuma analis bukan orang bodoh. Mereka akan mencocokkan data-data yang kita isi. Contoh misalnya: Anda isi tamatan SMA tetapi jabatan direktur. Nah, analis akan berpikir ulang ribuan kali atas data-data seperti itu. Mungkinkah tamatan SMA jadi direktur? Atau contoh lain: tamatan SMA tetapi gaji di atas Rp 20 juta per bulan. Apakah analis akan percaya begitu saja? Lalu apakah orang rumah akan menjawab tepat seperti isian Anda seperti tamatan S1, dsb? Malah bisa saja salah jawab atau berbeda sehingga langsung dicoret aplikasi Anda. Ketahuan Anda bohong dan manipulasi data.

Contoh lainnya: jabatan direktur bergaji Rp 100 juta per bulan tetapi rumahnya di Pademangan (Jakarta) atau Petemon (Surabaya), nah kira-kira apakah benar? Analis pasti akan mengirimkan tenaga SWAT mereka yakni surveyor. Mengapa? Karena kawasan Pademangan dan Petemon itu kompleks biasa bahkan cenderung kumuh. Maaf loh bagi yang tinggal di Pademangan atau Petemon. Dulu pacar kami juga tinggalnya di Petemon..hehe. Ini cuma ilustrasi doang. Kami tahu ada juga yang kaya raya. Namun bayangkan jika alamat rumah Anda itu ada di Pantai Indah Kapuk, Pondok Indah, Pantai Mutiara atau Graha Family, 1.000% permohonan kartu kredit Anda akan disetujui karena datanya klop sekali. Bahkan jika analisnya cewek dan wajah Anda di fotokopi KTP cukup ganteng, bukan tidak mungkin si doi akan jatuh cinta dan berhayal jadi pacar Anda atau isteri simpanan ke-5. Wong jelas ini jabatannya direktur.

Jadi kesimpulannya: apakah Anda yakin bisa mengakali rating kartu kredit atau dengan kata lain mengakali analis? Bukan perkara mudah dan sederhana. Perlu ilmu super tinggi. Hanya credit card mafia yang bisa menjebol pertahanan para analis dan bankir yang super pintar tersebut. Beberapa ilmunya sudah kami bagikan lewat ebook Rahasia Mafia Kartu Kredit. Tinggal Anda pelajari dan baca sendiri.

Rating Bernilai Paling Tinggi?

Kita pasti bertanya-tanya juga: lalu apakah ada kolom bernilai paling tinggi dari semua kolom tersebut? Jawab kami: ada, yakni: kolom data kartu kredit sebelumnya yang sudah Anda miliki. Ini adalah kolom yang memiliki rating paling tinggi. Mengapa paling tinggi? Tak lain karena analis sudah yakin Anda tidak bakalan kabur, status Anda jelas, penghasilan Anda cukup, dsb.. "Makanya bank lain bisa memberikan Anda kartu kredit, begitu juga dengan kami," kurang lebih seperti itulah yang ada di otak analis.

Analis tentu lebih suka Anda melampirkan fotokopi kartu kredit dan billing tagihan terbaru. Karena kedua dokumen tersebut nilai ratingnya paling tinggi. Dengan menyertakan dokumen seperti itu, analis tidak perlu lagi menebak-nebak dengan bersusah payah apalagi mengirimkan tenaga surveyor ke kantor atau ke rumah. Apalagi jika kartu kredit Anda dari bank asing, tentu bank lokal akan tunduk. Mengapa? Karena analis bank lokal akan berprinsip, "Bank asing saja percaya dia, masa saya tidak bisa percaya dia? Taruhlah kalau nasabah ini bohong, maka bodoh juga tuh analis bank asing...kekekeke."

Jadi pastikan data yang Anda isi adalah data yang paling bagus dan semua dokumen serta jawaban Anda sesuai dengan apa yang Anda isi. Bagaimana menurut Anda?


   

Bagikan artikel Rating Data Aplikan Kartu Kredit ini