Monday, October 27, 2014

Kejahatan Mail Order & Telephone Fraud

Modus kejahatan kartu kredit berikutnya adalah apa yang disebut dengan "mail order fraud" atau "telephone fraud". Kawanan penjahat ini tidak butuh kartu kredit kita secara fisik seperti aksi pick pocketing. Kira-kira seperti apa ilustrasi kejahatan kartu kredit yang satu ini? Apakah kita bisa menjadi salah satu korbannya? Berikut di bawah ini adalah ulasan singkatnya.
Berhati-hatilah karena modus penipuan. Bisa lewat kiriman surat atau kontak telepon. Pastikan yang menghubungi atau berbicara dengan Anda benar dari bank. Bukan mengaku-ngaku orang bank.
Mail Order Fraud

Mail order sebenarnya adalah sebuah strategi penjualan. Strategi ini marak di negara-negara maju terutama sebelum era internet dengan toko online-nya muncul. Perusahaan mengirimkan semacam majalah atau brosur tentang tawaran produk ke berbagai wilayah untuk dipasarkan. Jika pembeli atau konsumen berminat maka mereka tinggal mengangkat telepon dan menghubungi si penjual (perusahaan). Setelah melakukan pembayaran maka perusahaan akan mengirim produk pesanan ke alamat konsumen tersebut.

Pada awal kemunculan kartu kredit, perusahaan-perusahaan yang berjualan dengan sistem mail order ini menerima pembayaran pesanan dengan kartu kredit. Si pembeli cukup menyebutkan nomor kartu kredit mereka serta nama yang ada. Setelah itu kartu kredit akan diproses. Apakah ini berhasil? Tentu saja berhasil! Namun perlu Anda ingat bahwa ini terjadi zaman dulu di era awal tahun 90-an ketika internet belum terkenal seperti hari ini. Saat itu kami masih ingat bahwa kartu kredit saja tidak perlu diaktifkan. Begitu dikirim maka kartu kredit sudah bisa dipergunakan.

Kasus kejahatan mail order fraud ini banyak terjadi di negara-negara maju. Para pelaku memesan barang tetapi mengatasnamakan pemilik kartu kredit orang lain. Otomatis barang mereka terima namun yang membayarnya justru orang lain. Yang diperlukan kawanan pelaku ini hanyalah nomor kartu kredit dan nama yang tertera di kartu. Makanya tak heran era tahun 80-an hingga awal tahun 90-an nomor-nomor kartu kredit diperjualbelikan sedemikian marak lewat internet (chatting). Karena memang waktu dulu sistem pengamanan penggunaan kartu kredit masih sangatlah minim. Tetapi kalau sekarang hanya menjual nomor kartu kredit tidak akan ada yang mau. Bank sudah melakukan pengamanan berlapis.

Di Indonesia ada beberapa bisnis dijalankan dengan strategi mail order, namun sepertinya masih sulit berkembang karena orang cenderung tidak ingin membeli kucing dalam karung. Di foto tampak bagus barangnya namun begitu diterima berbeda bentuknya. Makanya banyak perusahaan lebih menggunakan mail order hanya sebagai media promosi saja. Boleh dikatakan kasus mail order fraud ini jarang terjadi di Indonesia. Yang ada mungkin adalah online fraud yang sering identik dengan aksi carding atau carder. Nanti akan kita bahas.

Telephone Fraud

Telephone fraud berbeda dengan mail order fraud. Kalau telephone fraud benar-benar masih terjadi di Indonesia dan biasanya mengincar pemegang kartu kredit baru. Karena belum begitu paham tentang seluk beluk produk kartu kredit, ancaman kejahatan kartu kredit dan baru pertama kali menggunakan kartu kredit, mereka masuk jebakan mulut buaya. Biasanya orang yang baru pertama kali menerima kartu kredit sangat gembira seperti baru saja menjebol perawan gadis desa. Suasana hati dan kondisi psikologis seperti inilah yang dimanfaatkan kawanan maling ini.

Perlu Anda ketahui bahwa dalam dunia bisnis terutama yang berkaitan dengan transaksi pembayaran elektronik magnetik atau digital, sebuah transaksi dianggap sah kadang tidak perlu sampai harus melakukan aksi pembayaran secara fisik (face to face). Pesanan lewat suara atau sebuah instruksi kecil bisa dianggap adalah perintah untuk melakukan transaksi pembayaran yang sah. Contoh sederhana misalnya Anda memerintahkan bank untuk mendebet rekening Anda, transfer tunai, transfer antar kartu, dsb. Kalau bank tidak mau melakukan instruksi Anda, mungkin Anda akan berkata, "Zaman sudah maju kok bank masih kuno. Masa nasabah yang harus tiap hari ke bank?" Bukankah demikian? Makanya ada yang disebut dengan phone banking. Semua intruksi transaksi perbankan cukup angka telepon dan perintah Anda akan direkam oleh bank sehingga tidak bisa mangkir lagi.

Para pelaku telephone fraud ini biasanya menghubungi Anda lewat telepon kantor atau rumah. Hampir jarang mereka mau menelepon ke ponsel Anda sebab selain mahal, mereka bisa tekor jika aksinya tidak berhasil. Ya mirip-mirip penipuan sms undian berhadiah gitu. Mereka yang mengharapkan Anda menghubungi mereka. Yang pasti kawanan pelaku ini enggan nomor telepon mereka diketahui calon korban. Sampai di sini mestinya Anda sudah bisa tambah pintar di mana setiap kali ada orang yang mengatasnamakan bank atau perusahaan ini dan itu, menawari produk ini dan itu, suruh mereka menghubungi kita lewat ponsel. Jika mereka tidak mau maka patut dicurigai. Tak ada alasan logis jika dikatakan menghubungi lewat ponsel mahal sebab itu sudah bagian dari operasional perusahaan. Perusahaan yang membayar bukan dari duit mereka sendiri.

Pelaku telephone fraud yang beraksi di Indonesia kami simpulkan rata-rata menggunakan tameng produk semacam membership (keanggotaan). Jadi Anda akan ditawari produk seperti tiket pesawat, voucher menginap, keanggotaaan resort, diskon weekend, honeymoon, dsb...dsb.. yang sebisa-bisanya mereka karang sendiri. Padahal semua itu bohong dan omong kosong belaka. Tetapi karena target korban adalah pemegang kartu kredit yang baru pertama kali menggunakan kartu kredit, seolah-olah terbius. Padahal tawaran yang resmi hanya bisa ditawarkan oleh penerbit kartu kredit atau perusahaan afiliasinya. Kalaupun lewat perusahaan afiliasi, biasanya bank penerbit akan menginformasikannya terlebih dulu minimal lewat website atau newsletter yang dikirimkan tiap bulan bersama tagihan kartu kredit ke alamat penagihan. 

Mengapa produk membership yang ditawarkan? Karena memang tidak ada harganya yang pasti. Lain halnya jika produknya unit televisi atau kamera. Bisa kita bandingkan segera mungkin atau menolaknya mentah-mentah karena sudah ada barang tersebut di rumah. Lagian mereka memilih produk jasa karena memang tidak perlu mengirimkan produk. 

Kawanan pelaku ini tidak beraksi sendirian melainkan berkelompok. Masing-masing ada peran bagiannya tersendiri. Pertama, si pelaku akan menghubungi korban mengatasnamakan bank. Lalu dari mana korban bisa tahu ini dari bank atau tidak? Seperti yang kami katakan suruh hubungi ke ponsel. Tetapi karena target korbannya adalah nasabah baru, otomatis dia berpikir benar adalah dari bank. Apalagi jika suara di seberang telepon begitu lembut dan ramah.

Pelaku akan mengajak korban berbicara ngalor-ngidul seraya menyanjung-nyanjungnya seperti, 

"Selamat ya Pak! Kami dari (menyebut nama bank) mempercayai Bapak menggunakan kartu kredit (menyebut jenis kartu) dengan limit yang besar. Bla...bla...bla..." 

Kalau Anda tipe orang yang suka disanjung maka mampuslah Anda! 

Karena korban tidak tahu ini adalah kawanan pelaku kejahatan, otomatis korban menjawab semua pertanyaan mereka dengan baik seraya menyebutkan kalimat "ya", "oke", "benar" yang tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh korban. Tentu saja nomor kartu kredit, nama ibu kandung, nomor ponsel, alamat penagihan, alamat kantor juga disebutkan. Semua pembicaraan dan instruksi tersebut diklaim oleh kawanan pelaku ini untuk mendebet saldo kartu kredit korban. Sehingga bank pun menagih korban. Anda pasti tahu bahwa instruksi lewat telepon menjadi salah satu perintah sah dalam transaksi bisnis. Duit pun melayang.

Dalam beberapa aksinya, kawanan pelaku ini kadang memang mengirimkan semacam voucher hotel dan sebagainya tetapi itu tidak seberapa nilainya alias produk abal-abal. Pokoknya sebagai nasabah kartu kredit Anda sudah ditipu mentah-mentah. Apakah bisa komplain ke bank? Komplain ya bisa-bisa saja tetapi proses pendebetan kartu kredit tidak bisa ditunda karena Anda setuju dan menerima produk mereka. Anda mau cari kantor gerombolan penipu ini rata-rata tidak ada bahkan kantornya saja sewa bulanan bermodalkan mesin EDC, dsb. Komunikasi Anda menjadi bukti bahwa Anda setuju dengan apa yang mereka tawarkan. Kalimat "ya", "benar", "oke", "tidak apa-apa" yang ceplos tanpa sengaja dari mulut Anda itu kadang adalah kalimat-kalimat yang dituntun untuk menjawab atau memastikan instruksi transaksi. Dalam aksi yang lebih cerdik, kawanan pelaku ini bisa bermain lebih lihai. 


 

Bagikan artikel Kejahatan Mail Order & Telephone Fraud ini