Friday, April 17, 2015

Kartu Kredit Pengeluaran Lebih Hemat

uang receh kembalian belanja
Uang receh kembalian belanja.
Bicara soal hemat atau boros sebenarnya tidak ada hubungannya dengan alat pembayaran. Entah itu uang kontan, cek, giro, kartu debit, kartu kredit atau bahkan daun pepohonan sekalipun. Lebih tepat sebenarnya bicara soal sikap mental, karakter atau tempramen orang tersebut. Ada orang yang rajin, ada orang yang malas; ada yang suka hidup hemat, ada juga yang demen hidup boros; ada yang sukanya makan-makan enak dan hura-hura, ada juga yang suka hidup sederhana; ada yang suka hidup dalam kemunafikan namun ada juga yang suka hidup  apa adanya, dsb.

Banyak orang mengatakan bahwa produk kartu kredit membuat membuat hidup mereka tambah boros. Orang-orang seperti itu menuduh bahwa kehidupannya yang boros karena ulah kartu kredit. Padahal kartu kredit hanya sebagai alat pembayaran layaknya kartu ATM atau bahkan uang tunai (cash). Penggunaan alat-alat transaksi seperti ini tentu ada pada diri orang-orangtersebut. Jadi yang menjadi masalahnya bukan alatnya tetapi manusianya itu sendiri, bukankah demikian? Tidak bisa ketika kita mengendarai mobil lalu menabrak mati seekor kucing atau nenek tua yang lagi menyeberang jalan, kita menyalahkan kucing atau nenek tua tersebut.
"Mengapa menyeberang jalan pas saya sedang nyetir?"
Atau tidak bisa kita berkata bahwa si kucing dan nenek tua tersebut sedang sial atau memang sudah takdirnya. Padahal kita harus introspeksi diri kembali bagaimana cara kita menyetir, bagaimana kondisi mobil yang kita kendarai, dsb. Bukan menyalahkan orang lain.

Menghemat Pengeluaran Dengan Kartu Kredit

Dengan berbagai penjelasan panjang lebar di awal tentang manfaat-manfaat kartu kredit, baik untuk kalangan usahawan atau konsumen, kami rasa tidak ada kesimpulan satupun yang bisa kita tarik bahwa kartu kredit membuat hidup tambah boros. Justru membuat kita bisa berhemat lebih banyak dengan segala kelebihan-kelebihannya. Berikut ini kami berikan lagi satu panduan bagaimana kartu kredit bisa membuat pengeluaran kita jauh lebih hemat.

Anda sering berbelanja di minimarket, supermarket atau bahkan di toko-toko tertentu bukan? Lalu ketika harga barang-barang yang kita beli dipatok dengan pecahan yang tanggung seperti Rp 9.975, Rp 999.900, dst., apa yang kita hadapi? Sudah pasti kembalian sebesar Rp 25, Rp 10, Rp 50 atau bahkan Rp 100 pun jarang tersedia. Selain merupakan trik marketing, juga memang karena merepotkan sekali harus menyediakan uang kecil dalam jumlah besar. Jangankan orang lain, kita sendiri kalau punya toko juga sulit menyediakan pecahan uang receh seperti itu. Makin ramai toko tersebut makin merepotkan urusan sepele ini. Kalau kita naikkan harga jual malah lebih riskan sebab bisa dianggap toko paling mahal. Kalau sudah dianggap mahal maka akan sepi pembeli pada akhirnya. Atas dasar alasan itulah banyak toko yang mengakalinya dengan kembalian permen-permen seadanya. Yang lebih cerdik tentu dengan menerima transaksi kartu kredit karena akan dicap pengusaha yang fair dan jujur.

Jika membayar menggunakan uang tunai, mau tidak mau kita harus menerima permen tersebut. Tidak mau menerimanya sebenarnya juga tidak masalah tetapi tidak akan ada uang kembalian. Ayo pilih mana? Mau ngotot? Bisa dianggap gila dan pelit di keramaian antrian pembeli. Dengan menerima permen ini secara tidak langsung sama saja kita membeli permen. Ini kecerdikan pemilik toko yang tidak pernah diberitahukan kepada pembeli. Boleh dibilang ini modus! Tidak bisa atas dasar tidak ada kembalian memberikan permen, menyuruh menyumbang ke panti asuhan, panti jompo, dsb. Kalau memang tidak ada kembalian bulatkan saja ke nilai terdekat misalnya Rp 99.900 menjadi Rp 100.000 atau Rp 99.000. Jangan menjadikan konsumen sebagai obyek manipulasi. Lain halnya jika kita membeli produk seharga Rp 10.000, lalu membayar Rp 10.000 begitu mau pergi si petugas kasir yang cantik berkata,
"Maaf Ibu, ini ada permen buat Ibu." 
Nah ini baru namanya hadiah.

Pedagang Untung Sana Sini

Pedagang selalu punya trik agar meraih untung lebih besar. Namanya juga orang jualan. Kalau bisa malah tidak perlu bayar pajak atau nyolong listrik PLN. Bisa Anda bayangkan jika dalam satu hari kita berbelanja minimal 3x yang artinya sebulan 90x. Lalu tiap kali berbelanja kita menerima permen senilai Rp 200. Artinya sebulan Rp 6.000 untuk urusan permen ini. Namun jika kita menggunakan kartu kredit, hal-hal seperti ini tidak bakalan terjadi. Kita beli Rp 999.000 maka itulah yang kita bayarkan. Jika beli Rp 95.720 maka itulah yang kita bayarkan. Tidak ada kata "lebih", tidak ada kata "kurang". Jadi kita tidak perlu "membeli" permen yang memang tidak kita perlukan dan tidak enak rasanya. Hemat mana?

Mungkin ada yang nyelutuk, "Tapi apa sih artinya Rp 6.000 tersebut?"

Jawaban kami sederhana, "Memang kalau dihitung per orang Rp 6.000 itu tidak seberapa dalam satu bulan. Tetapi bagaimana jika supermarket atau minimarket tersebut dalam sebulan ada 10.000 pelanggan atau pembeli?"

Dengan begitu mudahnya si pemilik meraih tambahan pemasukan Rp 60.000.000. Uang boleh receh tetapi kalau jumlahnya besar bisa jadi jutawan bahkan miliarder. Tidak ada uang Rp 1 juta jika tidak ada uang Rp 50. Orang yang meremehkan uang sama saja meremehkan dirinya sendiri sebab setiap hari bekerja mati-matian juga demi uang tersebut. 

Memang kartu kredit bisa disalahpergunakan tanpa terkontrol sehingga menimbulkan pemborosan. Tetapi itu bukan karena produknya tetapi sifat, tempramen dan tabiat si pengguna itu sendiri. Mungkin saja kurang edukasi yang baik terhadap produk kartu kredit sehingga main gesek-gesek dan apply-apply saja. Di tangan orang yang bijak dan pintar, sudah pasti kartu kredit akan lebih hemat dan terkontrol dibandingkan dengan menggunakan uang tunai atau kartu ATM. Namun di tangan orang yang memang dasarnya boros atau menggunakan kartu kredit membuat dirinya boros, maka percayalah dengan uang tunai atau kartu ATM pun orang tersebut akan jauh lebih boros. Namanya saja sudah "si pemboros". Belum lagi dengan berbagai tawaran promo berbelanja mendapatkan diskon, kartu kredit jauh lebih hemat! Tetapi jangan karena promonya kita membeli melainkan memang kita membutuhkan produk tersebut.

Bagikan artikel Kartu Kredit Pengeluaran Lebih Hemat ini