Sunday, May 24, 2015

Perluas Pasar Dengan Kartu Kredit

Manfaat terakhir yang ingin kami utarakan buat kalangan usahawan adalah bahwa kartu kredit memungkinkan perusahaan memperluas pangsa pasar. Apa maksudnya dan bagaimana ini bisa terjadi? Kalau kemarin kita sudah mengetahui bahwa kartu kredit bisa meningkatkan omset penjualan di mana menerapkan semacam trik penjualan dengan cara kredit (memanfaatkan kartu kredit), tetapi pengertian memperluas pasar ini jauh lebih luas. Mungkin lebih cocok jika kita istilahkan sebagai sarana menjangkau pasar baru (market). Kalau yang sebelumnya adalah sarana menjangkau pasar terdekat (potential market). Bagaimana menurut Anda?

Kartu Kredit Memungkinkan Perusahaan Berekspansi

Taruhlah Anda seorang pebisnis lukisan atau barang antik. Anda punya toko barang antik yang benar-benar bagus. Toko Anda ada di bilangan Kemang - Jakarta Selatan atau katakanlah di Bali. Tiap hari banyak sekali turis atau peminat barang antik lokal yang datang bertransaksi ke toko Anda baik dengan kartu kredit atau membayar tunai. Tetapi bukankah ini artinya Anda hanya menjangkau pasar terdekat? Konsumen yang harus datang kepada Anda dengan biaya sendiri bahkan dari tempat yang jauh. Ini sudah menambah cost. Cost seperti ini dalam hitungan strategi bisnis harus diminimalisir supaya konsumen dimudahkan.

Tetapi coba Anda buatkan website atau blog tentang produk barang antik yang Anda jual. Anda launching blog atau situs tersebut di Internet. Bukankah ini akan menambah pangsa pasar dari berbagai penjuru dunia? Semua orang bisa akses produk lukisan dan barang antik Anda. Mereka tidak perlu datang menghabiskan biaya hanya untuk melihat produk Anda. Mereka bisa dengan mudah dari dalam kamar konek Internet melihat, membaca, membeli dan menawar produk Anda. Ini artinya pangsa pasar Anda sudah menjangkau bukan saja 250 juta penduduk Indonesia tetapi lebih dari 6 milyar umat manusia. Bayangkan? Makanya tak heran saat ini semua perusahaan berusaha memiliki website atau blog mereka. Saat ini setiap bulan muncul kurang lebih 30 juta blog atau website dengan berbagai bentuk. Mengapa demikian? Karena memang sudah era Internet!
Tren konsumen berbelanja atau bertransaksi online sudah mulai berkembang.

Pertanyaannya sekarang adalah: jikalau ada peminat atau pembeli yang ingin membeli produk Anda dari Internet, dengan cara apakah mereka akan membayarnya? Tentu saja dengan kartu kredit, terkecuali pembeli lokal yang mungkin bisa dengan transfer uang lewat BCA atau Mandiri. Lain halnya untuk pasar global. Saat ini kartu kredit masih merupakan sarana pembayaran nomor satu di dunia maya, baru menyusul yang kedua seperti Paypal, Moneybooker, dsb. Jadi bisa Anda bayangkan jika tidak ada kartu kredit, atau toko Anda tidak menerima kartu kredit. Anda sudah kehilangan lebih dari 5 milyar pelanggan yang bisa saja potensial. Inilah maksudnya penerimaan kartu kredit bisa memperluas pangsa pasar Anda.

Taruhlah bisnis Anda tidak atau belum memiliki website perusahaan atau blog penjualan online. Lalu suatu hari ada turis atau pelancong yang datang dari negara maju seperti Amerika, Arab, Jepang atau Eropa. Mereka menemukan toko Anda tetapi pada saat mereka ingin membeli, Anda berkata demikian,

"Sory Sir. We only accept cash."

Kira-kira apakah Anda akan berhasil menjual produk Anda kepada turis-turis tersebut? Atau mereka hanya akan datang melihat-lihat saja? Saya pastikan  mereka akan datang sebagai pengamat atau melihat-lihat saja. Mereka mungkin akan berpikir ulang untuk membeli. Mereka tidak mau direpotkan jika setiap kali datang ke negara A harus menukar ke money changer di negara A, ke negara B harus menukar lagi ke money changer negara B, ke negara C harus ke money changer lagi, dst. Ribet sekali. Datang harus tukar uang, pulang pun harus tukar uang agar tidak sia-sia membawa uang negara lain kembali ke negara mereka yang tidak bisa ditransaksikan. Coba saja Anda bawa uang Brazil tukar ke money changer atau bank. Bahkan banyak yang tidak mau alias menolak dengan berbagai alasan. Apalagi jika jumlah nominalnya tidak spektakuler. Lalu buat apa Anda bawa pulang uang Brazil ke Indonesia? Kurang lebih begitu. 

Bahkan pada suatu kesempatan kami pernah bertukar pikiran dengan seorang pemulung mengenai pengalamannya menekuni profesi pemulung. Paling seru katanya pernah menemukan uang hampir Rp 1,3 juta di dalam buku-buku file (organizer). Katanya pasti uang itu lupa diambil sementara file sudah terbuang begitu saja sebagai sampah. Pengalaman lainnya adalah menemukan US$ 100 di dalam amplop. Katanya pasti uang yang tidak habis terambil sehingga masih terselip selembar. Dan paling mengejutkan dirinya adalah pernah menemukan segepok uang Brazil kurang lebih R$ 10.000. Begitu ditukar ke money changer atau bank, tidak ada yang mau. Nah loh, dapat kiriman duit dari langit pun percuma kan?

Semoga pemulung tersebut bukan doyan memulung karena kesenangan menemukan uang atau berharap menemukan uang lagi dalam jumlah ratusan juta baru berganti profesi. Kalau menemukan uang hasil korupsi yang dibuang karena takut dilacak KPK sih tidak jadi soal. Ayo yang kebetulan jadi pemulung, punya saudara jadi pemulung, ingin berganti profesi dari mafia kartu kredit jadi pemulung, saran kami yakni sering-sering memulung di tempat pembuangan sampah kompleks perumahan pejabat, orang kaya atau anggota DPR. Siapa tahu ada uang hasil korupsi yang ikut terselip di sampah dan dibuang. Pas saat mereka buru-buru ingin segera meninggalkan Indonesia menuju Singapore.

Jadi saat ini ada begitu banyak orang yang sudah mengerti dunia perbankan pasti akan menghindari penggunaan uang tunai secara berlebihan. Apalagi penduduk di negara maju yang sejak awal sudah dididik untuk tidak pernah membawa uang kontan yang banyak jika jalan-jalan. Kurang lebih begitu gambaran dunia perbankan dan transaksi bisnis saat ini. Yang penting di dompet ada terselip 2 lembar kartu kredit. Bukan seperti kita saat ini yang diselipkan justru kartu nama dan uang pecahan kecil menumpuk. Dikirain makin tebal dompet makin kaya atau makin banyak cewek cantik yang bakalan nempel. Yang ada ditempelin terus sama tukang copet.

Kurang lebih itulah alasan terakhir mengapa kartu kredit penting buat kalangan pengusaha. Sebenarnya masih banyak sisi positif lainnya tetapi sudah melekat pada sudut pandang seorang konsumen. Karena itu kita akan membahasnya panjang lebar di topik manfaat kartu kredit buat konsumen. Sudah pasti baik bagi konsumen akan baik juga bagi produsen.

 

Bagikan artikel Perluas Pasar Dengan Kartu Kredit ini