Sunday, May 10, 2015

Kartu Kredit Bikin Hidup Boros!

Daripada boros mending digunting saja.
Alasan kelima orang-orang sering menolak kartu kredit adalah karena dianggap kartu kredit membuat hidup jadi boros. Benarkah kartu kredit membuat hidup seseorang bertambah boros? Apakah karena faktor kartu kreditnya atau sifat karakter temperamen orang tersebut? Mari kita analisa dan pelajari bersama-sama.

Kartu Kredit Bikin Boros

Produk kartu kredit hanyalah sebuah alat pembayaran sama seperti uang tunai. Hanya saja ada semacam waktu penundaan saja. Jadi tidak ada jaminan bahwa orang yang menggunakan atau tidak menggunakan kartu kredit maka kondisi finansialnya akan selalu oke atau malah bertambah boros. Jika mentalitas orang tersebut boros, meski tidak menggunakan kartu kredit juga akan boros. Sebelum ditemukannya alat pembayaran bernama "kartu kredit" sebenarnya sudah banyak yang hidupnya boros hingga terlilit hutang.

Bahkan boleh dikatakan bahwa orang-orang yang menggunakan uang tunai jauh lebih boros pengeluaran mereka. Mengapa bisa disimpulkan demikian? Sebab uang lari ke mana kita tidak bsia melacak atau menghitungnya. Semua keperluan atau pengeluaran berasal dari dompet yang sama. Apakah setiap hari kita mengingat pengeluaran kita? Hampir tidak bukan? Uang sekolah anak dari dompet yang sama,  uang belanja untuk isteri juga dari dompet yang sama, beli bensin juga sama, uang perbaikan mobil juga sama, uang makan-makan di restoran juga sama, dst.

Bandingkan jika kita menggunakan kartu plastik atau kartu kredit. Setiap bulan kita akan mendapatkan laporan dari bank ke mana-mana saja pengeluaran kita. Dengan demikian kita bisa mereview, memangkas, memotong, melacak pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajar. Kita juga bisa merancang semacam neraca pengeluaran pendapatan sederhana yang dikenal dengan sebutan "personal budgeting". Jadi lebih hemat atau lebih boros?

Ditinjau dari sudut pemberian kartu kredit untuk seorang nasabah, sebenarnya lewat analis bank sudah melakukan semacam kalkulasi kondisi keuangan calon nasabah mereka. Bank menilai dari berbagai hal seperti besarnya penghasilan bulanan, biaya hidup, jumlah tanggungan, cicilan yang dimiliki, dsb. Jika dianggap sudah cukup oke dan diterbitkan kartu kredit maka kondisi keuangan orang tersebut dianggap bagus. Mentalitas si pemilik kartu juga dianggap cukup baik. Jika orang tersebut sudah kelilit hutang pasti tidak akan diberikan kartu kredit. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa justru yang tidak menggunakan kartu kredit lebih amburadul keuangan mereka. Makanya banyak yang tidak lolos verifikasi bank untuk mendapatkan kartu kredit.

Anehnya, ada beberapa pakar keuangan yang konon berpendidikan tinggi justru menyarankan orang menutup, menggunting atau mengembalikan kartu kredit ke bank. Alasannya menjerumuskan konsumen. Mereka tidak paham bahwa justru di tangan-tangan yang kreatif dan pintar, sebuah kartu kredit bisa menjadi modal usaha. Dengan menggunakan dua jenis kartu kredit yakni VISA dan MasterCard membuat kita bisa mengatur salah satunya misalnya untuk biaya sehari-hari (VISA) dan satunya lagi untuk entertaint rekan bisnis, hobby, dsb (MasterCard). Semuanya bebas kita pergunakan sesuai kreativitas kita. Bahkan jika merasa tidak cocok, toh kita masih bisa menggunakan uang tunai atau kartu debit.

Kesimpulannya: Boros tidaknya seseorang, miskin kayanya seseorang, tidak ditentukan oleh apakah orang tersebut menggunakan kartu kredit atau tidak. Jika tipe orang tersebut boros, serakah atau menggampangkan segala hal maka selamanya orang tersebut akan boros atau menjadi miskin. Kartu kredit hanyalah sebuah alat pembayaran dan bukanlah sebuah hutang. Tidak ada jaminan orang yang tidak menggunakan kartu kredit tidak bakalan berhutang sepanjang hidup mereka. Intinya adalah bijak menggunakan segala sesuatu yang kita miliki. Bagaimana menurut Anda?

Bagikan artikel Kartu Kredit Bikin Hidup Boros! ini