Wednesday, May 6, 2015

Kartu Kredit adalah Hutang

No ngutang! Dosa!
Alasan pertama orang menolak kartu kredit adalah karena kartu kredit dianggap sebagai bentuk hutang yang baru. "Lha, tidak punya uang lalu diberikan pinjaman, apakah ini bukan berarti hutang?" Kurang lebih seperti itu yang ada di benak mereka. Makin banyak hutang maka makin berdosa sedangkan orang berdosa tidak bakalan masuk surga.

Dalam perspektif yang lebih luas sebenarnya orang-orang seperti ini tidak paham bahwa semua negara-negara di dunia juga berhutang termasuk Indonesia yang sudah ribuan triliun rupiah. Kalau begitu apakah semua penduduknya tidak akan masuk surga? Bisa saja kita berkelit bahwa kita bukan pejabat yang memutuskan untuk mengambil hutang sehingga tidak terlibat dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Sebenarnya sami mawon (baca: sama saja) karena kita sering menggunakan berbagai infrastruktur negara yang banyak dibangun dengan hutang-hutang seperti itu. Contoh misalnya jalan raya, jembatan, waduk, pasar, dsb. Jangan giliran menggunakan mau tetapi giliran urusan surga neraka mau menang sendiri. Hanya Tuhan yang memutuskan siapa yang berhak masuk surga, bukan kita dan tidak siapa-siapa!

Benarkah Kartu Kredit adalah Hutang?

Bagi orang-orang seperti ini, makin banyak lembaran kartu kredit yang terselip di dompet kita maka semakin mereka akan merendahkan atau mencibir kita sebagai si tukang ngutang. Padahal mereka tidak menyadari bahwa untuk bisa mendapatkan kartu kredit tidaklah sembarangan. Bukan orang yang tidak punya pekerjaan atau penghasilan lalu tiba-tiba diberikan pinjaman. Atau orang miskin yang tiba-tiba diketuk pintunya diberikan uang. Bukan!

Untuk memiliki kartu kredit diperlukan beberapa persyaratan bahkan sangatlah rumit termasuk pekerjaan, jabatan, jumlah penghasilan, kemampuan membayar/menyicil, alamat tempat tinggal, kondisi finansial, jumlah tanggungan, dsb. Bahkan dengan sejumlah kriteria tersebut tetap saja ada orang yang tidak disetujui kepemilikan kartu kreditnya. Jadi siapa bilang kartu kredit adalah hutang?

Pengangguran, orang yang tidak memiliki usaha, tidak mempunyai tabungan, alamat rumahnya tidak jelas, sulit dihubungi, sudah pasti tidak akan mendapatkan atau memiliki kartu kredit. Bukan seperti orang yang tidak punya uang lalu meminjam ke warung di sebelah rumah yang akhirnya tidak mampu membayar sehingga dikejar pakai pentungan. Tidak! Atau nelayan yang kesulitan uang lalu meminjam ke tengkulak yang akhirnya terjerat hutang. Bukan seperti itu! Kalaupun kartu kredit masih dianggap sebagai hutang karena dipinjamkan uang terlebih dulu untuk dipakai maka itu adalah hutang yang bonafit. Sebab tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Apalagi jika saat ini sudah ada yang namanya kartu kredit SCC (secured credit card) di mana kita bisa menempatkan sejumlah dana sebagai jaminan untuk mendapatkan kartu kredit. Jadi siapa bilang adalah hutang? Dengan demikian alasan orang menolak kartu kredit dengan menganggapnya sebagai bentuk hutang baru atau orang yang memiliki kartu kredit adalah tukang ngutang tidaklah selalu tepat dan tidaklah selalu benar. Meski begitu keputusan untuk menggunakan kartu kredit atau tidak, itu adalah pilihan hidup masing-masing. Pilihan hidup tidak ada yang benar atau keliru. Selama itu yang terbaik buat kita maka itulah yang benar bagi diri kita. Bagaimana menurut Anda?

Bagikan artikel Kartu Kredit adalah Hutang ini