Friday, May 8, 2015

Kartu Kredit Ada Biaya Tambahan

Kartu kredit ada biaya tambahan.
Penolakan berikutnya terhadap produk kartu kredit adalah anggapan bahwa penggunaan kartu kredit dikenakan biaya tambahan. Misalnya beli ponsel secara kontan di Glodok atau Hartono cukup membayar Rp 3.000.000, sementara jika menggunakan kartu kredit dikenakan harga Rp 3.090.000. Ada biaya tambahan kurang lebih 3% dari nilai transaksi. Lebih mahal bukan? Tapi benarkah lebih mahal? Biaya apakah yang Rp 90.000 tersebut? Semoga penjelasan di bawah ini cukup jelas.

Biaya Tambahan Kartu Kredit

Biaya tambahan yang kita sebutkan di atas biasanya dikenal dengan sebutan "reimbursement fee" atau "surcharge'. Biaya itu bukan dikenakan oleh bank sebagai penerbit kartu kredit melainkan oleh si pemilik toko. Untuk mengetahui persis bagaimana biaya ini dikenakan dan tujuannya untuk apa, kita harus mengerti proses transaksi kartu kredit.

Bank mengincar keuntungan lewat penyediaan mesin gesek EDC. Sasarannya adalah pemilik toko atau merchant itu sendiri. Bank akan menarik fee sekian persen atas setiap transaksi lewat mesin gesek ini. Fee inilah yang menjadi sumber utama penghasilan bank untuk mencari untung atau menutup biaya operasional mereka. Hal ini sudah kita bahas cukup jelas di artikel kegunaan kartu kredit di zaman modern. Silakan Anda membacanya kembali.

Jika Budi datang ke sebuah toko di bilangan Glodok lalu menggesek kartu kreditnya senilai Rp 1.000.000, maka bank memungut biaya atas transaksi tersebut. Katakanlah misalnya 2% maka si pemilik toko akan membayar bank senilai Rp 20.000. Jadi toko cuma terima bersih Rp 980.000. Sampai di sini kami anggap cukup jelas.

Sekarang yang menjadi masalahnya adalah seringkali produk-produk elektronik tertentu memiliki margin keuntungan yang sangat minim. Salah satu contohnya adalah ponsel. Jika sebuah ponsel baru margin keuntungannya hanya Rp 50.000 - Rp 100.000, pembayaran menggunakan kartu kredit bisa membuat pemilik toko bangkrut sebab masih harus setor ke bank 2%. Kalau harga ponsel Rp 4 juta maka harus setor Rp 80.000. Cuma untung Rp 20.000 atau malah tekor Rp 30.000. Semua pemilik toko akan menolaknya termasuk kita juga jika mempunyai toko. Masa yang untung cuma bank dan pengguna kartu kredit saja? Maka itu pemilik toko mengenakan kepada kita yang membayar dengan kartu kredit biaya surcharge 3% atau 3,5% tersebut. Kurang lebih seperti ini. Jadi yang licik di sini sebenarnya adalah pemilik toko.

Dari penjelasan di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa yang menjadi problem bukan produk kartu kredit atau sistem transaksi kartu kredit melainkan mentalitas si pedagang (pemilik toko). Pedagang sudah menggunakan fasilitas bank tetapi tidak ingin membayar ke bank melainkan dibebankan kepada pembeli (pengguna kartu kredit). Mungkin mereka beranggapan bahwa konsumen juga menggunakan fasilitas bank bahkan bisa menyicil, lalu mengapa pedagang yang harus menanggung biaya-biaya seperti ini? Mereka tidak sadar jika konsumen menyicil maka bank pun akan mengenakan bunga. Padahal jelas dengan menerima pembayaran kartu kredit, si pemilik toko sudah sangat diuntungkan.

Dilema Perbankan yang Cukup Unik

Satu hal yang mungkin perlu kita ketahui atau berjaga-jaga dari praktek manipulasi adalah pada saat kita berbelanja dengan kartu kredit, kita harus memastikan bahwa harga yang kita bayar adalah harga sebenarnya. Jangan sampai harga yang kita bayar sudah dinaikkan biaya surcharge 3% ini secara terselubung. Lalu bagaimana jika pemilik toko berkata bahwa penggunaan kartu kredit akan dikenakan biaya tambahan 3%? Kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah mau berbelanja dengan biaya tambahan tersebut atau tidak.

Saran kami adalah lakukan pembayaran tunai atau lewat kartu debit. Jika tetap ingin menggunakan kartu kredit, ada baiknya mencari toko alternatif atau berpindah ke toko lain yang tidak mengenakan biaya ini karena bekerja sama dengan bank dalam program apa yang disebut market talk. Coba hubungi bank penerbit kartu untuk bertanya di toko manakah yang tidak mengenakan biaya surcharge. Jika tidak ada maka mau tidak mau jika memang membutuhkan produk tersebut terpaksa harus dibeli.

Lalu apakah ini berarti menggunakan kartu kredit ada biaya tambahan? Sebenarnya tidak juga. Kartu kredit sejak awal diciptakan untuk membayar tagihan makanan dan minuman di restoran atau hotel, bukan untuk berbelanja elektronik. Hanya saja karena penggunaannya yang semakin meluas membuatnya dipergunakan juga untuk berbelanja emas, perhiasan, ponsel, tiket pesawat, motor, mobil, dsb. Celakanya ada kalanya beberapa produk memang memiliki margin keuntungan yang sedemikian kecil sehingga membayar dengan kartu kredit akan membuat pemilik toko rugi.

Bank tidak tinggal diam. Mereka juga mencari solusi atas dilema seperti ini. Pemilik toko bisa tetap berkembang tanpa bank sebab transaksi tunai masih sangat lazim di negara ini. Sementara bank tidak bisa berkembang tanpa bantuan toko (merchant). Makin banyak merchant yang berhasil diakuisisi bank maka semakin cepat produk kartu kredit tersebut berkembang. Begitu juga pemilik kartu akan semakin merasa diuntungkan sebab di mana-mana kartu kredit bisa dipergunakan.

Mengenakan biaya tambahan atas penggunaan kartu kredit di negara-negara maju bisa dikategorikan kejahatan atau penipuan konsumen. Para pelakunya bisa diproses secara hukum sebab merebut hak konsumen. Berhubung kita tinggal di negara berkembang di mana penggunaan produk kartu kredit belum mendapatkan pengaruhnya, kita tidak bisa berbuat banyak. Meski demikian kita bisa mengadu ke bank jika menemukan ada merchant yang sungguh keterlaluan dalam memungut surcharge ini. Bank yang akan menindaklanjutinya mencabut mesin gesek tersebut atau bahkan memblacklistnya.
 
Kesimpulannya: sangatlah tidak tepat jika ada orang yang menolak menggunakan kartu kredit atas dasar adanya biaya surcharge seperti ini. Biaya ini bukan dari bank atau transaksi kartu kredit melainkan dari pemilik toko. Di negara-negara maju tidak ada biaya-biaya seperti ini dan tidak semua produk dikenakan biaya ini. Biasanya hanyalah produk-produk elekronik tertentu yang margin untungnya kecil. Bagaimana menurut Anda?

Bagikan artikel Kartu Kredit Ada Biaya Tambahan ini