Friday, May 15, 2015

Dicap Pengusaha yang Fair dan Jujur

toko menerima kartu kredit
Mesin gesek kartu kredit yang disediakan sangat membantu pemilik toko. 
Selain masalah kenyamanan berdagang, menerima pembayaran dengan kartu kredit juga akan memberikan performa positif bagi usaha atau bisnis itu sendiri. Sebagai pedagang kita akan dianggap pengusaha yang jujur dan cukup fair dalam melayani pembeli. Mengapa bisa dikatakan demikian? Berikut adalah penjelasannya.

Dianggap Pedagang Jujur dan Fair

Jika masih menerima pembayaran tunai, kita bergumul dengan masalah uang kembalian (uang receh). Benar-benar bikin repot karena harus menyediakan banyak uang receh. Apalagi jika dalam bentuk uang logam maka sangatlah berat. Semakin ramai toko kita maka semakin pusing. Solusi atas pergumulan seperti ini biasanya kita akali dengan permen. Bukakah sering kita jumpai praktek-praktek bisnis seperti ini? Terutama jika kita berbelanja di minimarket atau supermarket.

Jika seseorang berbelanja senilai Rp 74.500 maka kita wajib mengembalikan Rp 500. Harus tersedia uang receh Rp 500. Jika ada pembeli yang berbelanja senilai Rp 4.800 maka kita harus mengembalikan kembalian uang koin Rp 200. Bisa dibayangkan jika pas sedang tidak ada uang receh seperti itu? Bagaimana jika sehari ada ribuan orang datang membeli produk yang harganya sama? Berapa banyak koin yang harus kita sediakan? Ke mana harus menukarnya? Mana mungkin kita mengusir pembeli hanya karena tidak ada uang kembalian? Misalnya didepan toko ditulis:

Maaf, Toko Ditutup Sementara.
Uang Kembalian Lagi Kosong!
Sungguh konyol sekali bukan? Masa rezeki ditolak? Lama-lama bisa kabur semua pelanggan karena dianggap ada yang tidak beres dengan pola pikir si pemilik toko. 

Siasat Pemilik Toko

Menyiasati uang kembalian menggunakan permen, sah-sah saja. Yang harus dihindari adalah jangan sampai tidak memberikan uang kembalian namun juga tidak memberikan permen. Ini sudah kelewatan dan mau untung sendiri alias rakus. Jangan pernah kita berpikir, "Akh...cuma beberapa ratus perak. Pembeli tidak akan protes." Benarkah demikian?

Kalau cuma satu kali mungkin pembeli bisa memakluminya. Namun jika sering terjadi maka lama-lama orang akan muak dan pasti sadar bahwa si pemilik toko mau menang dan untung sendiri. Masa dari bulan-bulan kemarin tetap saja tidak menyediakan uang receh kembalian? Atau kalau toko kita begitu ramai maka akan menjadi pergunjingan gosip yang sungguh tidak nyaman.
"Satu orang Rp 500. Sehari ada 1.000 pembeli. Wah kaya tuh yang punya toko. Bisa bayar gaji pegawai pakai uang receh. Dasar pelit!"
Jadi sebagai solusinya jika kita tidak bisa menyedikan uang receh, mau tidak mau minimal harus memberikan permen. Atau kalau tidak mau maka kita bisa membulatkan harga jual mendekati nominal yang mudah dikembalikan. Contoh misalnya harga barang Rp 10.750 kita bulatkan saja  menjadi Rp 11.000. Tentu saja ada risikonya dengan cara begini di mana harga barang menjadi lebih mahal sehingga kurang efektif bersaing dengan toko-toko lainnya. Kalau dibulatkan ke bawah misalnya Rp 10.000 atau Rp 10.500 justru bisa mengurangi margin keuntungan.

Meski permen sudah cukup efektif, tetap saja ada konsumen yang tidak puas karena orang-orang membutuhkan uang kembalian dan bukannya ikut membeli permen. Apalagi jika permen yang diberikan itu permen asalan yang rasanya tidak enak dan tidak terdengar nama pabriknya serta memiliki kandungan gizi yang buruk seperti zat pewarna berbahaya penyebab kanker, pemanis buatan, dsb. Kita saja tidak mau apalagi orang lain? Bisa tambah dicap pengusaha malas, pelit, kikir, culas, curang, dsb...apalagi jika gara-gara permen tersebut pembeli tambah kumat penyakit diabetesnya.

Solusi lainnya, kita juga bisa bekerjasama dengan beberapa lembaga sosial seperti palang merah Indonesia (PMI), panti asuhan, yayasan anak yatim piatu, dompet dhuafa, dsb. Uang-uang receh yang mestinya menjadi hak pembeli, kita sarankan atau dorong untuk disalurkan ke lembaga-lembaga sosial seperti itu. Tetapi kita harus mengadopsi sistem pembayaran yang terkomputerisasi di mana di dalam struk tercetak sumbangan receh tersebut. Ini jelas tidak murah biaya pembuatannya. Kalau cuma pakai omongan saja tetap saja uang bisa "dimakan" si pemilik toko.

Selain itu apakah penyaluran uang yang terkumpul sudah cukup transparan? Seperti apakah bentuk pelaporannya kepada pembeli? Memang terlihat kecil cuma Rp 200 atau Rp 500 perak. Tapi bayangkan jika supermarket seperti Hero atau Carrefour yang sehari pembelinya di seluruh Indonesia bisa mencapai 1 juta orang. Berapa uang yang terkumpul? Ratusan juta per hari. Setahun saja bisa jadi milyarder kalau dikorup oleh orang-orang tertentu. Makanya tak heran ada yang ngotot tidak mau menyumbang dan tetap meminta uang kembalian. Repot sekali bukan?

Tidak demikian jika toko kita mau menerima pembayaran dengan kartu. Entah itu kartu kredit, kartu debit, kartu prabayar atau kartu transaksi belanja lainnya. Berapapun harga barang yang dibelanja oleh konsumen maka sebanyak itulah mereka ditagih dan wajib membayarnya. Kita tidak perlu repot menyediakan uang kembalian atau memberikan permen. Begitu kartu kredit digesek atau didekatkan ke mesin EDC maka saat itu juga pembayaran masuk ke rekening kita. Tinggal pencet saja nilai belanjanya sekalipun ada pecahan recehnya tidak masalah.

Jadi siapa bilang kartu kredit tidak bermanfaat buat pedagang? Menerima pembayaran dengan kartu kredit juga tidak meniadakan konsumen yang masih ingin berbelanja secara tunai. Makin lengkap transaksi yang kita terima, makin bagus toko kita dalam melayani pembeli serta mengalahkan pesaing kita. Uang receh yang kita miliki juga masih cukup untuk melayani sebagian pembeli yang masih membayar tunai. Jadi tidak cepat habis uang receh tersebut karena kita juga sudah menerima kartu kredit. Bagaimana?

Bagikan artikel Dicap Pengusaha yang Fair dan Jujur ini