Monday, June 8, 2015

Sejarah dan Asal Muasal Uang

Untuk memahami produk kartu kredit dengan baik dan benar, mungkin kita harus memulainya dari sejarah atau asal muasal uang. Kapan uang dikenal umat manusia dan kapan dipergunakan? Mengapa manusia membutuhkan yang namanya uang? Lalu apa hubungan uang dengan kartu kredit? Mari kita telusuri bersama-sama dengan penggambaran yang sederhana dan logis di bawah ini. Selamat membaca dan mengikuti!
sejarah asal muasal uang
Untuk mempelajari kartu kredit kita harus mengetahui sejarah uang. image: google.com.

Bermula dari Zaman Purba

Tahukah Anda bahwa pada zaman purba dulu, petani akan selamanya makan padi, nelayan akan selamanya makan ikan, peladang akan selalu makan buah-buahan, peternak hanya mengkonsumsi daging, pemburu cuma makan binatang hasil buruannya? Mengapa bisa demikian? Tak lain karena zaman dulu manusia belum mengenal apa yang disebut "transaksi bisnis". Kehidupan waktu itu benar-benar membosankan dan apa adanya. Yang dikonsumsi juga hanya itu-itu saja. Jangankan zaman purba, zaman modern seperti sekarang ini saja masih ada banyak orang yang merasa bosan serta kesepian sampai ada yang ingin bunuh diri.

Suatu hari, petani, nelayan, peladang, peternak atau pemburu akan berpindah-pindah tempat tinggal. Dikenal dengan julukan manusia "nomaden" yang artinya selalu berpindah-pindah tempat tinggal alias tidak punya rumah. Selain faktor sumber daya alam yang sudah habis (makanan dan minuman), perpindahan ini bisa juga karena bencana alam, menghindari binatang buas, perang suku, dsb. Dalam perjalanan berpindah-pindah tempat inilah maka suatu saat si nelayan akan bertemu si petani; kaum peternak akan bertemu kaum peladang; pemburu akan bertemu nelayan, dst.

Pertemuan-pertemuan atau interaksi-interaksi yang sering terjadi seperti ini akhinya memunculkan adanya pertukaran makanan dan minuman. Ternyata di muka bumi ini ada sumber makanan lain selain ikan, daging, sayur, buah-buahan atau biji-bijian. Akhirnya mereka bertukar makanan dan minuman yang kita kenal dengan istilah "barter". Tempat sering bertemu dan bertukar makanan minuman inilah yang akhirnya disebut "pasar" hingga yang kita kenal di zaman modern sekarang. Bisa ditarik kesimpulan awal bahwa konsep pasar adalah tempat bertemunya orang-orang yang membawa barang dagangan.

Tempat Pertemuan dan Sistem Barter

Biasanya tempat yang dijadikan pasar adalah tempat-tempat yang memudahkan mereka bertemu. Contoh misalnya dataran rendah yang tanahnya rata, dekat sungai sehingga mudah dijangkau dengan perahu - harap diingat bahwa dulu belum ada alat transportasi yang paling canggih selain perahu -, bebas dari ancaman binatang buas dan bencana alam (bicara kenyamanan), bertemu di persimpangan jalan (bicara strategis), dsb. Semuanya harus bisa mengakomodir semua pihak baik petani, nelayan, peternak, pemburu, peladang, dsb. Bisa dibayangkan jika sebuah negara atau kota yang tiap hari demo, rusuh, bom meledak di mana-mana, transportasi macet, listrik amburadul, air bersih tidak ada, jalanan berlubang-lubang kayak kubangan sapi, bagaimana negara atau kota itu bisa maju? Bagaimana bisa dijadikan tempat untuk mempertemukan orang dengan berbagai keperluan dan kepentingan? Sampai kiamat negara itu tidak akan maju sekali pun dipimpin seorang dewa atau malaikat. Inilah salah satu alasan mengapa Indonesia tercinta ini tidak pernah maju dibandingkan negara-negara tetangga bahkan Singapura dan Malaysia.

Adanya proses pertukaran makanan minuman (barter) seperti ini memberikan pelajaran kepada kita tentang ilmu ekonomi yang namanya perdagangan internasional (global trade). Setiap negara memiliki sumber daya alam dan keunggulan yang berbeda-beda dalam mengelola sumber daya alam tersebut. Ada yang tanahnya subur tetapi tidak paham teknologi, ada negara yang punya timbah tetapi tidak punya batubara, dst. Otomatis perlu dilakukan atau digalakkan kerjasama perdagangan internasional untuk meningkatkan daya gunanya. Contoh: Indonesia penuh sumber daya alam tetapi kekurangan teknologi. Otomatis harus berdagang dengan negara-negara yang kekurangan sumber daya alam tetapi mampu secara teknologi. Inilah yang disebut bisnis internasional baik B2B (perusahaan ke perusahaan) atau G2G (pemerintah ke pemerintah).

Dengan adanya transaksi bisnis internasional, masing-masing negara akan mendapatkan keuntungan atau nilai lebih (competitive advantages). Orang-orang yang sering meneriakkan kata-kata boikot tanpa dasar yang kuat atau hanya atas dasar sentimen SARA bisa disebut orang paling konyol sedunia. Secara sekilas memang terlihat sangat jenius, jagoan dan nasionalis tetapi sesungguhnya kebalikannya. Kita tidak bisa main boikot-boikot saja. Alasannya sangatlah sederhana: apakah negara lain tidak bisa melakukan hal yang sama dengan memboikot produk Indonesia? Efek yang ditimbulkan bahkan bisa jauh lebih parah karena banyak produk-produk teknologi dan kesehatan tidak kita miliki dan sangat bergantung pada negara-negara lain. Kalau cuma soal boikot produk makanan minuman masih biasa-biasa saja sebab sumber makanan bisa disubstitusikan (diganti). Bagaimana dengan produk obat-obatan atau produk kesehatan? Jangankan produk kesehatan, jika negara lain menghentikan suku cadang pesawat terbang saja, satu per satu warga negara Indonesia akan tewas mengenaskan di udara. Apa kita mesti berjalan kaki atau berenang melintasi samudera biru dari Jakarta ke Surabaya, dari Surabaya ke Makassar?
 
Kekurangan Transaksi Barter

transaksi barter
Transaksi barter.
Makanan ditukar makanan, minuman ditukar minuman. Semua kebutuhan hidup manusia pada zaman purba ditukar begitu saja. Standarisasi atau nilai tukar belum ada dan belum bisa ditentukan. Yang berlaku hanyalah berdasarkan kebutuhan, stok barang dan mungkin sedikit hukum permintaan penawaran. Seorang petani akan menukar padinya jika lagi membutuhkan makanan lain, begitu juga seorang peternak akan menukar ayamnya jika membutuhkan makanan lain. Kalau tidak butuh maka tidak akan pernah terjadi transaksi. Di samping itu, seorang petani akan menukar begitu saja sekarung padi, peternak akan menukar kambingnya begitu saja dengan pemilik ikan atau pemilik buah-buahan.

Lama kelamaan transaksi barter menemukan kendala yang sangat riskan dan fatal.

Alasan pertama, berkaitan dengan masalah jumlah atau takaran. Kalau sekarang kita menyebutnya dengan istilah satuan nilai. Apakah jika seseorang kaya raya maka dirinya harus menimbun padi, beras, ikan asin, buah-buahan, sayur mayur berton-ton di rumah atau di gudang yang suatu hari akan lapuk dan membusuk? Tentu konyol bukan?

Alasan kedua, bagaimana menakar sekarung beras dengan ayam, ikan, buah-buahan dan sebaliknya? Apakah 10 ekor ayam sama dengan 2 kilogram ikan atau 15 ikat sayur sama dengan 1 ekor kambing? Ayam dan kambing adalah binatang hidup yang bisa beranak pihak, sementara padi, sayur, buah-buahan dan ikan bisa membusuk dan menyusut. Makin membingungkan.

Alasan ketiga yang jauh lebih rumit adalah kedua belah pihak harus membutuhkan barang yang dimiliki pihak lain dan juga harus membawa barang yang dibutuhkan pihak lain. Hal ini hampir mustahil terjadi. Misalnya seorang petani membutuhkan ikan sementara nelayan tidak membutuhkan padi melainkan buah-buahan. Sementara itu pemilik buah tidak membutuhkan padi atau ikan melainkan daging. Otomatis tidak bisa terjadi barter karena masing-masing tidak membawa barang yang dibutuhkan. Bisa dibayangkan kondisi seperti ini? Meski masing-masing membawa produk yang mereka miliki, sudah ada takaran nilai tukarnya, membutuhkan produk lain, tetap saja tidak bisa bertransaksi sebelum menemukan lawannya.

Lama kelamaan petani yang membutuhkan ikan, berasnya keburu membusuk jika harus menunggu sampai nelayan yang sedang ingin makan buah membutuhkan padi. Begitu juga hasil tangkapan nelayan akan membusuk jika dia menunggu sampai ada yang membutuhkan ikan, dst. Pokoknya rumit sekali. Sama seperti sekarang misalnya kita punya produk jualan tetapi tidak mendapatkan pembeli atau konsumen. Lama-lama produk tersebut menjadi barang stok tiada guna dan akhirnya merugi dan dijual diskon (cuci gudang).

Kabar baiknya adalah manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling jenius. Jika masalah transaksi barter tidak bisa diatasi maka suatu hari akan menimbulkan kekacauan. Kehidupan manusia tidak berkembang ke arah yang lebih maju. Dari sinilah cikal bakal diciptakannya uang yang kita kenal sekarang yakni uang kertas dan uang logam.


asal mata uang
Mata uang logam dan kertas.
Barter bisa diatasi dengan menciptakan satuan nilai tukar dalam bentuk lain yakni mata uang. Uang pada mulanya hanya mempergunakan alat-alat kerajinan tangan hingga perhiasan. Pada awalnya bisa saja itu terbuat dari batu-batuan, kerajinan kayu, kulit kerang hingga yang terbuat dari logam (besi, perak, timah, kuningan, emas, dst.). Misalnya bahan makanan bisa ditukar dengan tombak, periuk, dsb. Dengan adanya alat tukar seperti ini kendala yang dialami oleh transaksi barter mulai teratasi. Tak perlu lagi harus menunggu sampai makanan membusuk atau kedua belah pihak saling membutuhkan barang yang dimiliki.

Sejak mulai diperkenalkan alat tukar, sistem barter mulai ditinggalkan dan tidak menarik lagi. Manusia mulai mengenal uang meski dalam bentuknya yang paling kuno dan paling awal. Seiring perjalanan waktu, alat-alat tukar ini juga menemukan sejumlah kerumitan dan kendalanya tersendiri. Alasannya karena bentuk fisiknya yang berat dan jumlahnya terbatas. Meski secara standarisasi nilai dianggap sudah cukup bagus di mana logam mulia tidak bisa lapuk, rusak atau berkurang beratnya seperti penggunaan alat kerajinan tangan, tetapi tetap saja merepotkan.

Emas, perak, tembaga, timah dan unsur-unsur logam-logam lain, jumlahnya sangatlah terbatas. Perlu usaha keras untuk menambangnya dari dasar bumi. Ini juga menjadi ganjalan yang sangat serius. Suatu hari jumlahnya juga akan menipis dan habis sebab sumber daya alam tambang tidak bisa diperbaharui. Selain itu karena bentuk dan ukurannya yang berat menimbulkan masalah tersendiri. Apakah jika seseorang kaya raya maka harus menimbun batangan emas, perak, tembaga berton-ton di gudang bawah tanah? Apakah kalau jalan-jalan ke mana-mana harus membawa berkarung-karung emas yang beratnya setengah mati? Sejak itulah mulai dipikirkan jalan keluar dan terciptalah uang kertas yang kita kenal sekarang. Meski dulu ukuran uang kertas itu besar-besar. Lebih ringan dan bisa diperbaharui pasokannya karena terbuat dari bahan baku kayu. Pohon bisa diperbaharui. Uang logam pun dipergunakan semakin sedikit dan itu pun dalam pecahan kecil saja. Sampai di sini, uang sudah menemukan bentuknya yang sangat luar biasa. Berkembang cepat dan dipergunakan menyeluruh selama ribuan tahun di seluruh penjuru dunia. Seiring itu muncullah bank-bank yang bisa menjadi tempat menyimpan uang atau meminjam uang. It's done!

Kendala Uang Logam & Uang Kertas

Pecahan uang logam dan uang kertas yang sudah kita pergunakan ribuan tahun ini lama-lama mulai menimbulkan masalah tersendiri seiring perkembangan zaman. Penyebabnya adalah karena mobilitas manusia yang semakin kompleks dan tinggi. Meski uang kertas sudah cukup ringan, apakah seseorang kalau bepergian ke luar negeri harus membawa berkoper-koper uang? Uang kertas juga bisa rusak, sobek, terbakar atau kecurian bahkan dirampok. Belum lagi di zaman sekarang di mana hutan semakin menipis untuk ditebang karena faktor pemanasan global. Selain itu apakah seseorang harus selalu menukarkan mata uang asing negara tujuan sebelum bepergian ke negara tersebut? Hal-hal seperti inilah yang akhirnya memunculkan ide untuk menciptakan uang dalam bentuk lain yang bisa mengakomodir semuanya itu. Sebenarnya inilah cikal bakal munculnya kartu plastik yang akhirnya memunculkan produk "kartu kredit" untuk dipergunakan di seluruh dunia.

Dari serangkaian penjelasan ini Anda tahu bahwa kartu kredit tidak timbul dengan sendirinya. Semuanya bisa ditelusuri hingga ke zaman purba. Kartu kredit bukan produk asal-asalan yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan. Kartu kredit sudah melewati masa-masa sulitnya di zaman dulu dan merupakan metamorfosis mata uang. Bagaimana dengan masa depan seribu tahun kemudian dari sekarang? Tentu yang akan menjawabnya adalah anak cucu cicit kita nanti. Apakah akan menggunakan chip yang dibenamkan ke dalam telapak tangan atau jidat manusia seperti film 666 tentang pemerintahan antikris/dajjal (one world order)? Apakah nanti akan disematkan di telepon selular atau e-KTP? Jawabannya hanya menunggu waktunya saja dan mungkin kita sudah kembali menjadi debu. Masa depan adalah milik mereka yang belum lahir dan masih menjadi misteri.


Bagikan artikel Sejarah dan Asal Muasal Uang ini