Friday, June 5, 2015

Arti, Manfaat dan Benefit Kartu Charge

Contoh kartu charge. 
Dalam artikel sebelumnya tentang sejarah singkat perkembangan kartu kredit di dunia, sudah kita singgung sekilas tentang arti kartu charge ini. Sebelum kehadiran kartu kredit, semuanya memang berawal dari "charge card" seperti ini. Lalu apa sebenarnya pengertian kartu charge ini? Bagaimana memiliki atau mendapatkannya? Syarat apa yang dibutuhkan serta bagaimana prosedur penggunaannya? Di bawah ini akan kami jelaskan sekilas untuk Anda.

Pengertian Kartu Charge

Kartu ini diterbitkan oleh bank untuk tujuan transaksi berbelanja. Pola penggunaannya persis sama seperti kartu debit atau kartu kredit. Kalau kartu debit secara otomatis memotong saldo tabungan, tidak demikian dengan kartu charge ini. Kartu charge tidak memotong saldo tabungan melainkan menggunakan uang bank terlebih dulu persis seperti kartu kredit. Jadi boleh dibilang kita pakai sekarang dan bulan depan baru bayar. Enak bukan?

Karena ada penundaan pembayaran membuat pamor charge card berkembang pesat. Siapa sih yang tidak mau bayar belakangan? Siapa sih yang mau membawa uang tunai dalam jumlah besar bepergian melancong ke seluruh penjuru dunia? Meski demikian tidak mudah untuk mendapatkan kartu ini. Proses pengajuan kepemilikan kartu charge relatif sama seperti kartu kredit namun persyaratannya jauh lebih rumit dibandingkan kartu kredit. Selain masalah besarnya penghasilan, jabatan atau profesi kerja, kadang bank juga melacak nilai tabungan orang tersebut yang ada di sejumlah bank. Semua ini untuk memverifikasi "kemampuan membayar" si calon pemegang kartu. Tentu saja semuanya ini dibutuhkan karena sistem pembayarannya sedikit berbeda dengan kartu kredit.

Perbedaan Kartu Charge dengan Kartu Kredit

Secara kasat mata tidak ada yang berbeda baik dalam bentuk fisik atau fitur-fitur kartunya. Cara penggunaannya juga relatif sama yakni cukup digesekkan ke mesin EDC. Kartu charge juga mengenal beberapa kategori kartu seperti jenis kartu silver, gold, dsb.. meski dengan istilah yang sedikit berbeda. Kartu charge juga mengenakan yang namanya iuran tahunan. Yang membedakan kedua kartu ini adalah masalah pembayaran atau perhitungan bunga/denda.

Kartu charge tidak menggenal sistem bunga (interest) tetapi biaya keterlambatan (late charge). Inilah salah satu perbedaannya dengan dengan kartu kredit. Kartu kredit bukan saja mengenakan biaya keterlambatan tetapi juga bisa biaya bunga berbunga yang semakin hari semakin membengkak jika tidak dilunasi secara penuh dan sesegera mungkin. Tidak demikian dengan kartu charge!

Selain itu kartu charge tidak mengenal istilah cicilan dalam arti bayar sesuai kemampuan atau sekian persen dari total tagihan. Tidak! Anda pakai berapa maka Anda wajib melunasinya secara penuh begitu tagihan datang. Istilahnya harus bayar full payment. Misalnya menggunakan Rp 10 juta maka wajib dan harus membayar Rp 10 juta tepat waktu. Bagaimana jika tagihan datang kita belum punya uang sebesar itu? Kita cukup bayar semampu kita dan sisanya akan ditagihkan bulan berikut dengan memasukkan biaya keterlambatan. Tidak ada biaya bunga jadi jauh lebih ringan dari kartu kredit.

Tetapi jangan tersenyum dulu. Pada saat tidak membayar penuh maka secara otomatis kartu charge tersebut tidak bisa dipergunakan sama sekali (diblokir). Berbeda dengan kartu kredit bukan? Kalau kartu kredit, kita masih bisa menggunakan kartu tersebut meski cuma bayar separuh. Selama saldonya masih ada, kartu kredit tersebut masih tetap bisa kita pergunakan. Beda dengan charge card.

Charge card juga tidak mengenal yang namanya limit seperti kartu kredit. Misalnya penghasilan Rp 3 juta per bulan mendapatkan kartu silver dengan limit maksimal Rp 8 juta sebagai pemula; penghasilan Rp 8 juta per bulan mendapatkan kartu gold dengan limit maksimal Rp 20 juta, dst. Tidak demikian perhitungannya. Meski memang ada hitung-hitungan penghasilan atau gaji, tetapi pemberian limit charge card boleh dibilang tidak terbatas.

Seorang pemula yang mendapatkan kartu charge bisa saja langsung digelontorkan limit kartu senilai Rp 300 juta. Tetapi yang itu tadi begitu dipakai maka harus dilunasi penuh tepat waktu. Sampai di sini kita bisa paham bahwa kartu charge adalah kartu yang benar-benar menunjukkan kebonafitan si nasabah. Tidak semua orang bisa mempunyai kartu charge karena memang hanya untuk nasabah-nasabah atau orang-orang terpilih yang secara keuangan sangatlah mapan. Pakai berapa maka bulan depan harus bayar penuh sesuai yang dipakai. Maka itu proses persetujuannya sedemikian rumit dan susah. Meski kita sudah punya kartu kredit Citibank platinum atau Standard Chartered platinum dengan limit ratusan juta sekalipun, tetap saja belum tentu akan lolos diberikan kartu charge misalnya oleh American Express (Amex). Karena konsep pembayaran kartunya memang berbeda.

Saking powerful-nya kartu charge ini seperti produk keluaran Amex, maka kadang kedigdayaannya bisa menggantikan paspor yang hilang atau tertinggal saat kita melancong ke negara-negara tertentu terutama Amerika (United States). Sebab kartu charge memang tersohor di Amerika. Cukup tunjukkan kartu Amex maka semua urusan kita akan selesai. Karena pihak bank penerbit akan sesegera mungkin mengurusnya untuk kita. Karena kita dianggap adalah orang-orang kaya di dunia yang harus dilayani sedemikian rupa. Mereka punya data profil kita sebagai nasabah mereka.

Perkembangan Kartu Charge di Dunia

Sayangnya, perkembangan kartu charge akhirnya mulai memudar karena gempuran dari produk kartu kredit. Selain jumlah nasabahnya yang terlalu sedikit yang tidak bisa menutup biaya akuisisi dan operasional secara menyeluruh karena faktor pertimbangan dalam persetujuan kartu, juga karena kehebatan VISA dan MasterCard dalam mempopulerkan produk kartu kredit mereka di seluruh dunia. VISA dan MasterCard terus menambah layanan mereka yang persis sama seperti kartu charge. Lama-lama orang berpindah ke kartu kredit dan rontoklah bisnis charge card di sejumlah negara termasuk di Indonesia. Bahkan Amex yang dulunya hanya menerbitkan kartu charge akhirnya tergoda juga menerbitkan kartu kredit dengan brand Amex tapi kurang mendapat respon pasar. Kita masih bisa memiliki kartu ini yang kalau tidak salah dikeluarkan oleh Bank Danamon. Mungkin juga masih ada beberapa orang yang masih memiliki kartu charge Amex yang diterbitkan langsung oleh kantor pusat Amex di USA atau perwaliannya. Cuma kendalanya adalah di mana kartu tersebut bisa dipergunakan untuk berbelanja? Boleh dibilang hampir tidak ada lagi tempat yang bisa menggesek kartu charge card ini. Bisa dihitung dengan jari. Buat apa? Bisa dimiliki tetapi tidak bisa dipergunakan sementara harus membayar iuran tahunan. Kecuali bagi mereka yang masih sering melancong ke luar negeri terutama ke kota-kota besar di USA.

Lama-lama rontok juga bisnis tersebut karena kekurangan nasabah sementara biaya operasionalnya tetap sama. Akhirnya American Express sebagai bank penerbit kartu charge atau kartu kredit di Indonesia per tanggal 24 Februari 2009 pun angkat kaki merger dengan bank lain akibat kalah bersaing. Padahal era tahun 90-an sangat terkenal mengalahkan Citibank pamornya. Begitu juga dengan kartu Diners Club. Bisnis produk keuangan selalu berkaitan erat antara jumlah nasabah dengan benefit (akuisisi merchant). Merchant sedikit membuat orang tidak minat. Peminat kartu yang sedikit, otomatis banyak toko yang tidak mau menjadi merchant, dst. Jadi dua hal ini harus dikembangkan secara bersamaan.

Beberapa jenis kartu charge yang pernah kita kenal untuk pasar di Indonesia antara lain adalah: Diners Club, American Express (AMEX), BCA Blue Card, dsb. Bank BCA pada tahap awal juga pernah menerbitkan kartu charge yang dikenal dengan nama "BCA blue card". Namun sepertinya sekarang sudah tidak terdengar lagi atau kalah pamor. Semuanya kalah bersaing dengan VISA dan MasterCard sebagai prinsipal kartu kredit nomor wahid di dunia. Waktu menjadi juri yang abadi.

Bagikan artikel Arti, Manfaat dan Benefit Kartu Charge ini